GHISYA duduk di tempat tidurnya sambil bersedih. Tak lama lagi ia akan pindah ke Makassar bersama keluarganya. Ia tidak ingin pindah dari Jakarta. Apalagi ia sudah memiliki sahabat di sini.
Ayah dan Bunda tidak mengerti bagaimana perasaan Ghisya ketika harus meninggalkan sahabat. Tapi, pekerjaan Ayah juga pasti sangat penting bagi Ayah.
“Ghisya, sarapan dulu,” teriak Bunda membuyarkan lamunannya. “Iya Bun,” jawab Ghisya. Bergegas anak perempuan itu menuju ruang makan.
Setelah sampai di sana, ternyata sudah ada Ayah dengan kopi dan roti cokelatnya. Begitupun dengan Kak Ghesya yang di depannya sudah tersaji roti blueberry dan susu putihnya.
“Hai, selamat pagi Ghisya!” sapa Kak Ghesya. “Pagi kak,” balas Ghisya dengan lesu sambil duduk di kursinya. “Kok, tumben dek, lemas sekali hari ini. Ada apa?” tanya Kak Ghesya heran melihat perubahan yang terjadi pada adik kesayangannya.
“Enggak kak, Ghisya masih tetap semangat kok,” Ghisya terpaksa berbohong. Sebenarnya ia ingin cerita pada Kak Ghesya. Tapi ia malu jika harus bercerita juga pada Ayah dan Bunda. “Jangan bohong, kakak tahu kamu ada masalah,” ujar Kak Ghesya.
“Enggak ada apa-apa Kak, masa kakak tidak percaya pada adik kakak sendiri,” kata Ghisya lalu mengambil roti dan memberinya selai stroberi. Tak lupa ia meletakkan susu coklatnya di meja makan. “Iya, iya, kakak percaya,” kata Kak Ghesya akhirnya.
Saat mereka sedang melahap sarapan, Bunda datang dan berkata, “Ghesya, Ghisya, ayo cepat! Sudah ditunggu Ayah di mobil.”
“Ini kita sudah selesai kok, Bun,” kata Kak Ghesya sambil menunjuk sarapan yang sudah habis dimakan. “Ya sudah, sana berangkat!” ujar Bunda. “Kami berangkat ya, Bun. Assalamualaikum,” pamit mereka berdua setelah mencium tangan Bunda. “Waalaikumsalam,” jawab Bunda.
Ghisya adalah anak perempuan yang duduk di bangku SD kelas 3. Ciri khasnya yaitu ia lebih suka menggunakan kerudung langsung pakai daripada kerudung segi empat. Sedangkan kakaknya, Kak Ghesya lebih suka menggunakan kerudung segi empat. Kak Ghesya duduk di bangku SMP kelas 9.
Setelah keluar dari rumah, mereka berdua masuk ke dalam mobil. Lalu, mobil tersebut melaju dengan dikemudikan Pak Herman, sopir keluarga. Tak terasa mobil melaju dengan kencang dan akhirnya sampai di sekolah Ghisya. “Hati-hati ya, Ghisya!” pesan Ayah. “Iya Ayah, Ghisya sekolah dulu ya, Assalamualaikum,” pamit Ghisya sambil mencium tangan Ayah. “Waalaikumsalam,” jawab Ayah.
Kemudian, setelah Ghisya keluar dari mobil, ia pun memasuki gerbang sekolah. Saat sampai di kelasnya, ia meletakkan tasnya di bangku dan menghampiri Shasya, sahabatnya.
“Hai, pagi Shasya!” sapa Ghisya. “Pagi Ghisya,” balas Shasya. “Sha, nanti kita ke kantin yuk, aku ingin membicarakan sesuatu,” ajak Ghisya. “Oh, ok!” Shasya mengacungkan ibu jarinya. Tepat setelah itu, bel masuk berbunyi.
Miss Vina, guru Bahasa Inggris memasuki ruang kelas. Setelah berdoa, pelajaran dimulai.
Beberapa jam kemudian, bel tanda istirahat pun berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar kelas. Lalu, Shasya mengajak Ghisya pergi ke kantin. “Yuk, kita ke kantin!” ajak Shasya. “Ayo,” sambut Ghisya dengan semangat. Mereka berdua pun pergi ke kantin.
Setelah sampai di kantin, Shasya dan Ghisya mencari tempat yang kosong. “Aku cari minuman dan cemilan dulu ya,” pamit Ghisya. “Oh iya, terima kasih ya, Ghisya,” sahut Shasya.
Tak berapa lama, Ghisya datang kembali membawa dua buah plastik berisi bakso tusuk dan es teh.
Shasya pun bertanya pada Ghisya. “Ada apa Ghisya? Kok, kayaknya penting banget.”
“Jadi begini Sya, aku bersama keluargaku akan pindah ke Makkasar. Tetapi aku tidak ingin pindah ke Makkasar. Aku ingin tetap di sini. Karena aku tidak ingin kehilangan sahabatku. Sebenarnya, aku ingin cerita pada Kak Ghesya, tapi aku malu jika ingin cerita. Jadi bagaimana pendapatmu?” jelas Ghisya.
“Kalau menurutku sih, lebih baik kamu cerita pada Kak Ghesya dan siapa tahu Kak Ghesya bisa membantu. Bicarakan juga pada Ayah dan Bundamu jika kamu tidak ingin pindah. Atau kamu turuti saja kemauan orangtuamu dan yang terpenting persahabatan kita tetap bertahan,” jawab Shasya.
Ghisya sangat bersyukur mempunyai sahabat seperti Shasya yang pengertian pada sahabatnya.
Saat bel pulang berbunyi, Ghisya keluar kelas dan segera menuju pintu gerbang sambil memikirkan perkataan Shasya sewaktu istirahat. Di depan pintu gerbang sudah ada Pak Herman yang menunggu Ghisya pulang. Ia pun segera menghampiri Pak Herman.
“Pak Herman, ayo kita pulang,” kata Ghisya. “Eh, Non Ghisya sudah pulang. Ayo Non, tapi jemput Kak Ghesya dulu ya,” ujar Pak Herman. “Iya, Pak,” angguk Ghisya. Mobil pun melaju menuju sekolah Kak Ghesya. (Bersambung)
Amirah


