GHATSA duduk termenung di kelas sendirian. Biasanya, saat jam istirahat ia berkumpul bersama sahabat-sahabatnya. Entah ke kantin, mengobrol atau jajan di luar sekolah.
Tetapi, untuk saat ini sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu. Wajahnya terlihat sangat sedih.
Tiba-tiba ketika Ghatsa sedang melamun, salah satu sahabatnya, Izzel, datang menghampirinya. “Sa, jajan yuk, sama temen-temen yang lain,” ajak Izzel.
“Enggak dulu deh, Zel, aku mau di kelas saja,” jawabnya. “Ya sudah, aku jajan dulu ya,” ujar Izzel. ” Ok, Zel,” sahut Ghatsa. Izzel pun berlalu meninggalkan Ghatsa sendirian di dalam kelas.
“Hmmm… memangnya salah ya, kalau aku ingin jadi presiden, mengapa semua teman-teman menertawakan dan meragukan cita-citaku?” gumamnya dalam hati.
Bersamaan dengan itu, bel masuk kelas berbunyi. Satu per satu teman-temannya memasuki ruang kelas.
“Wah, rupanya Pak Presiden kita ada di dalam kelas sendirian,” ujar anak-anak perempuan kelas 7.3. Ghatsa semakin sedih mendengarnya.
Ketika anak perempuan menertawakan dan meledeknya, guru Bahasa Indonesia, Bu Syifa datang memasuki ruang kelas. “Assalamualaikum…” salam Bu Syifa. Murid-murid kelas 7.3 langsung duduk di tempatnya masing-masing.
Anak-anak perempuan pun berhenti menertawakannya.
Pelajaran Bahasa Indonesia segera dimulai. Ghatsa masih terus saja memikirkan tentang cita-citanya. Namun, ia berusaha untuk mengalihkan pemikirannya dengan mengerjakan soal yang diberikan Bu Syifa, tapi tetap saja tidak bisa.
Tiba-tiba ia mempunyai sebuah ide. Saat istirahat kedua, ia akan menceritakan semua yang dialaminya pada saudaranya, Bella. “Semoga saja Bella punya jalan keluarnya,” kata Ghatsa dalam hati.
Beberapa jam kemudian, bel tanda shalat Dzuhur berbunyi. Bergegas anak laki-laki bertubuh tinggi itu keluar kelas menuju Masjid yang bersebelahan dengan sekolah.
Sesampainya di Masjid, Ghatsa melihat Bella yang berjalan bersama teman-temannya. Ia pun menghampiri Bella. “Bell, nanti habis sholat Dzuhur, boleh enggak ngobrol sebentar?” tanyanya. “Oh, boleh kok,” jawab Bella.
Setelah itu, Ghatsa berjalan menuju tempatnya biasa meletakkan sepatu.
Para siswa mengambil wudhu di tempat wudhu. Setelah itu, mereka semua melaksanakan shalat Dzuhur berjamaah.
Selesai shalat dan berdzikir, Ghatsa buru-buru menuju kantin untuk menemui Bella. Rupanya, Bella sudah menunggu di sana.
“Bella,” panggilnya. Ghatsa segera menghampiri Bella. “Tumben, ada apa emang?” tanya Bella pada Ghatsa. Ghatsa pun menceritakan semuanya dari awal.
Setelah selesai ia bercerita, Bella berkata. “Ya sudah, tidak perlu dipikirkan. Aku yakin kamu pasti bisa mewujudkan cita-citamu kok, kalau kamu mau berusaha dan berdoa,” ujar Bella menjelaskan.
“Makasih ya, Bell, hanya kamu dan Izzel yang percaya aku bisa menjadi presiden,” katanya. “Iya, sama-sama,” jawab Bella.
Sekarang, jika anak perempuan meledeknya, Ghatsa tidak sedih lagi. Ia percaya dan yakin kalau dirinya bisa menjadi presiden yang hebat jika dia berusaha dan berdoa.
Amirah


